Ganendra Dewandaru namanya. Lahir saat malam tak berbintang di sudut kota Jakarta dimana kemarahan sang ibu memuncak kepada bapak yang tengah bersama wanita muda tak dikenal. Buat ia ditinggal tanpa sosok perempuan, menyisakan bapak tak guna dan banyak omong soal wanita.
Walau tak sejahat apa yang bapaknya lakukan, tetap saja buah pasti jatuh tak jauh dari pohonnya. Coba kau sebut saja nama Daru, pasti hampir semua orang mengenalinya dengan julukan perusak hati gadis-gadis tak berdaya, Sudah tak terhitung jari wanita yang ia perangkap dalam tipu muslihat omongannya. Dengan kata-kata manis penuh cinta yang nyatanya ia lakukan untuk mengisi kekosongan.
Andai saja dirinya tak mengenal Malakhi Bintang Sudarmono, mungkin Dewa akan tetap mengulangi siklus yang bapaknya lakukan. Bintang juga lah yang menjadi tempat Daru kembali pulang, menjadi tempat teraman bagi Dewa.
Hingga takdir membawa Dewa bertemu Bintang Kejora Purnama, (mantan) kekasih hati yang paling ia puja. Hanya dengan pertemuan singkat dengan penuh kehangatan yang tak asing bagi Dewa, seakan ia mendapatkan cinta yang rasanya telah lama ia rasakan. Menciptakan rasa aman dan ketergantungan bagi Dewa sendiri.
Hubungan mereka bertahan sangat lama dibandingkan dengan mantan-mantan lainnya. Sampai tanpa ia sadari, Kejora terpuruk akan cinta yang Dewa beri. Yang sampai saat ini, Dewa sendiri tidak menyadari bentuk kesalahan yang ia perbuat. Yang hanya ia ingat hanyalah seberkas memori akan kepergian Kejora, hancurnya Kejora yang tersedu sedan meninggalkan Dewa dengan tatapan nanar pergi tenggelam dalam gelap yang tak berujung. Yang menjadi mimpi buruk bagi Dewa selama dua tahun belakangan ini.
Yang menjadi penyesalan selama Dewa hidup sampai detik ini.